Penelitian BKB Leli Azizah

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Anak merupakan aset yang menentukan kelangsungan hidup, kualitas dan kejayaan suatu bangsa di masa mendatang. Oleh karena itu anak perlu dikondisikan agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan dididik sebaik mungkin agar di masa depan dapat menjadi generasi penerus yang berkarakter serta berkepribadian baik. Tahun-tahun pertama kehidupan manusia merupakan periode yang sangat penting dan kritis. Keberhasian tumbuh kembang anak di tahun-tahun pertama akan sangat menentukan hari depan anak. Kelainan atau penyimpangan apapun kalau tidak diintervensi secara dini dengan baik pada saatnya, apalagi yang tidak terdeteksi akan mengurangi kualitas sumber daya manusia kelak di kemudian hari.

Terkait dengan tumbuh kembang anak para ahli psikologi perkembangan sepakat bahwa usia balita adalah “The Golden Age” atau masa emas dalam tahap perkembangan hidup manusia. Dikatakan sebagai masa emas karena pada masa ini tidak kurang 100 milyar sel otak siap untuk distimulasi agar kecerdasan seseorang dapat berkembang secara optimal dikemudian hari. Dalam banyak penelitian menunjukkan kecerdsan anak usia 0-4 tahun terbangun 50% dari total kecerdasan yang akan dicapai pada usia 18 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa usia 4 tahun pertama adalah masa-masa paling menentukan dalam membangun kecerdasan anak dibanding masa-masa sesudahnya. Artinya bila pada usia tersebut tidak mendapat rangsangan yang maksimal maka potensi tumbuh kembang anak tidak akan teraktualisasikan secara optimal. Disamping itu bukan tidak mungkin bila pada masa ini anak tidak dapat mengalami gangguan perkembangan emosi, sosial, mental, intelektual dan moral sangat menentukan karakter cara bersikap dan pola perilakunya (Anik Rahmani Yudhastawa, 2005 : 10).

Akibat pengaruh globalisasi yang makin menguat di setiap aspek kehidupan, banyak bangsa-bangsa di dunia yang tidak berkarakter kehilangan jati dirinya. Tanpa di sadari budaya telah mengalami pergeseran (akulturasi). Semula batas budaya barat dan timur terlihat jelas, namun sekarang ini yang terjadi budaya luar secara permisif berbaur dengan budaya lokal. Kondisi yang demikian menjadi berbahaya tatkala budaya buruk dari luar ditelan mentah-mentah oleh anak-anak dalam sebuah keluarga. Seperti budaya kekerasan, minum minuman keras, penyalahgunaan narkoba atau seks bebas. Disinilah peran orang tua ditantang untuk mampu mengembalikan karakter anak dalam kapasitas agar anak dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya.

Pada kenyataannya orang tua mengalami kesulitan dalam mendidik anak, orang tua lebih mencontoh pola bimbingan yang dilakukan oleh orang tuanya lebih dahulu atau belajar sendiri (otodidak). Banyak orang tua yang menganggap bahwa karakter anak akan terbentuk sendiri. Untuk merespon fenomena dan solusi permasalahan orang tua dalam membentuk karakter anak, pemerintah melalui BKKBN telah melaksanakan dan mengembangkan program Keluarga Berencana (KB) yang di tanggung jawabi oleh Badan Pemberdayaan Perempuan Dan Keluarga Benerncana (ex. BKKBN kab/kota). Program BPPKB tersebut dilaksanakan  melalui wadah Bina Keluarga Balita (BKB).

BKB adalah kegiatan yang khusus mengelola tentang  pembinaan tumbuh kembang anak melalui pola asuh yang benar berdasarkan kelompok umur, yang dilaksanakan oleh sejumlah kader dan berada ditingkat RW. (Pedoman Pembinaan Kelompok Bina Keluarga Balita Tahun 2006). BKB Melati merupakan salah satu dari sekian banyak BKB yang tersebar di seluruh Kelurahan di Indonesia. Lahirnya BKB adalah untuk memberi solusi konkrit terhadap masalah-masalah orang tua  terutama pada permasalahan Pembentukan Karakter Usia Dini (PKUD). BKB memiliki tujuan umum untuk meningkatkan peranan orang tua serta anggota keluarga yang lain untuk membina tumbuh kembang anak balita sesuai dengan usia dan tahap perkembangan yang harus dimiliki, baik dalam aspek fisik, kecerdasan emosional maupun social. Program ini dipandang sangat strategis dan erat kaitannya dengan salah sati misi Kota Bandung yaitu mengembangkan sumber daya manusia yang handal dan religious, yang mencakup pendidikan, kesehatan, dan moral keagamaan (BKB, 2006: 1).

Bentuk perhatian pemerintah ini tercermin dengan digalakkannya kembali kegiatan BKB dan Posyandu serta dikembangkannya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD – dahulu disebut  PADU : Pendidikan Anak Dini Usia) dengan kegiatan seperti Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak (TPA), dan Satuan PAUD Sejenis (SPS). Perhatian pemerintah ini ternyata mendapat sambutan positif dari masyarakat seiring dengan tumbuhnya kesadaran baru bahwa proses tumbuh kembang anak  akan berpengaruh terhadap perkembangan kehidupan anak selanjutnya. Akan tetapi, kegiatan BKB, Posyandu dan PAUD selama ini terkesan berjalan sendiri-sendiri sehingga ada kesan di masyarakat bahwa ketiga kegiatan tersebut berjalan sendiri-sendiri dengan tujuan akhir yang tidak ada kaitannya satu sama lain. Sementara apabila didalami lebih jauh, ketiga kegiatan tersebut sebenarnya dapat dipadukan/disinergikan karena satu sama lain saling mengisi dan melengkapi, terutama bila hal ini dikaitkan dengan tujuan perndidikan untuk menjadikan “Anak Indonesia Sehat, Cerdas, Bercita-cita Tinggi dan Berakhlak mulia” yang berdimensi holistik. Sebab kenyataan menunjukkan, mereka yang sukses di masyarakat tidak selalu hanya pintar secara intelektual, tetapi juga yang juga baik kecerdasan sosial dan motoriknya.

Selama ini BKB dikenal sebagai kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, kesadaran dan sikap orangtua serta anggota keluarga lainnya dalam membina tumbuh kembang balita. Sementara Posyandu adalah kegiatan dalam rangka pelayanan kesehatan dan pemantauan status gizi bagi anak dengan harapan anak dapat tumbuh sehat dan ceria. Pelayanan kesehatan ini juga berlaku untuk masyarakat umum termasuk lansia. Sedangkan PAUD adalah upaya pembinaan yang ditujukan pada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan jasmani dan perkembangan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (pasal 1 butir 14). Dari beberapa pengertian tersebut dapat diketahui bahwa sasaran BKB adalah orangtua (ayah/ibu) dan anggota keluarga lainnya, Posyandu orangtua dan anak termasuk di dalamnya  masyarakat umum dan lansia, sedangkan PAUD sasarannya adalah anak.

BKB didirikan pada tahun 1981 atas prakarsa Menteri Urusan Peranan Wanita yang menjabat saat itu. BKB diselenggarakan di kelurahan/desa di Indonesia diprakarsai diantaranya oleh POSYANDU, PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga), Persatuan istri TNI dan istri ketua RW serta warga masyarakat yang memiliki kemauan mendirikan BKB.

 

BKB merupakan program yang strategis dalam upaya pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) sejak dini. BKB secara kontinyu menanamkan kepada orang tua agar tetap memperhatikan perkembangan anak secara komprehensif. BKB sendiri memiliki banyak kegiatan, diantaranya adalah kegiatan pelayanan, mulai dari penyuluhan seputar tumbuh kembang anak dan gizi balita, dan kegiatan perawatan ibu hamil dan bayi baru lahir, serta pemahaman tentang manfaat Alat Permainan Edukatif (APE). Setiap BKB memiliki beberapa orang kader yang berperan dalam penyelenggaraan program-program pelayanan BKB. Melalui program-program pelayanan yang ada di BKB, para kader akan membimbing ibu-ibu anggota BKB dan memberikan ketrampilan tentang pola pengasuhan dan mendidik anak yang baik.

Kelompok BKB umumnya terdiri dari keluarga muda dengan anggota yang mempunyai anak batita atau anak balita. Untuk memberdayakan keluarga Batita (Bawah UsiaTigaTahun) dan keluarga Balita (Bawah Usia Lima Tahun), seluruh jajaran pembangunan. Sebagai orang tua baru, atau orangtua muda, banyak diantara saudara kita yang tidak mengenyam pendidikan secara memadai, belum memahami pola asuh dan tumbuh kembang anak yang baik. Untuk itu, pemerintah menyediakan program ini untuk mereka, sehingga akan memberikan manfaat kepada mereka.

Apa sih manfaat ikut BKB? Ternyata dengan mengikuti program ini menjadi lebih pandai mengurus dan merawat anak, pandai membagi waktu dan mengasuh anak. Bertambah wawasan dan pengetahuan tentang pola asuh anak, serta meningkatnya keterampilan dalam mengasuh dan mendidik anak balita. Yang menjadi alasan utama, mengapa orang tua yang punya balita harus mengetahui pola asuh anak, adalah pembentukan karakter sejak dini. Sebagai masa yang merupakan tahap awal dari kehidupan seseorang, masa balita dipandang penting karena di masa inilah diletakkan dasar-dasar kepribadian yang akan memberi warna ketika kelak balita tersebut tumbuh dewasa.

Disinilah peran orangtua sangat diperlukan dalam membina dan memantau tumbuh kembang anak. Sebagai orang yang paling dekat dengan Balita, sosok ibu lah yang lebih banyak mengetahui perkembangan anaknya. Apa jadinya jika seorang ibu tidak memiliki pengetahuan tentang pola asuh dan tumbuh kembang anaknya? Bukan tidak mungkin, sosok-sosok koruptor yang kini menghuni negeri ini, tidak diperhatikan tumbuh kembangnya karena kesibukan orang tua mereka. BKB memiliki kebijakan dalam pelaksanaannya yaitu lintas sektoral dan lintas program terpadu, desentralisasi manajemen, kemandirian, keswadayaan desa. Sedangkan strategi yang digunakan persamaan persepsi, peningkatan peran, kemitraan dan pengembangan jaringan informasi.

Saat ini di setiap Indonesia sudah banyak terdapat lembaga BKB, sebut saja di wilayah Jawa Barat jumlah BKB yang ada adalah 4.556 BKB dengan jumlah keluarga balita 295.117 keluarga yang tersebar dibeberapa kecamatan dan salah satunya adalah kecamatan Sukasari yang mempunyai empat kelurahan yaitu Sukarasa, Gegerkalong, Sarijadi dan Isola. BKB yang peneliti teliti adalah BKB yang ada di kelurahan Gegerkalong, Rt 04 Rw 03 yaitu BKB Miana I. BKB ini concern memberikan dan mengembangkan pelayanan bimbingan dan penyuluhan terhadap orang tua dalam membentuk kepribadian dan karakter anak. Hal tersebut sebagai upaya  meningkatkan peranan orang tua serta anggota keluarga yang lain untuk membina tumbuh kembang anak balita sesuai dengan usia dan tahap perkembangan yang harus dimiliki, baik dalam aspek fisik, kecerdasan emosional maupun social. Sehubung dengan hal itu, peneliti tertarik untuk meneliti pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan terhadap orang tua dalam membentuk karakter anak sejak usia dini.

Berdasarkan pemikiran diatas, penulis merasa tertarik untuk mengetahui bagaimana proses bimbingan dan penyuluhan yang dilakukan para kader BKB Miana I Kelurahan Gegerkalong terhadap orang tua dalam membentuk karakter anak sejak usia dini.

 

  1. B.       Rumusan Masalah

Merujuk pada kondisi diatas, secara umum masalah yang akan diteliti dalan penelitian ini adalah:

  1. Bagaimana profil program BKB Miana I Kelurahan Gegerkalong ?
  2. Bagaimana proses bimbingan dan penyuluhan yang dilakukan oleh BKB Miana I Kelurahan Gegerkalong ?
  3. Apa saja faktor pengahambat dan faktor pendukungnya ?
  4. Bagaimana hasil yang dicapai dari pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan untuk orang tua dalam membentuk karakter anak usia dini yang diberikan oleh BKB Miana I Kelurahan Gegerkalong ?

 

  1. C.           Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui bagaimana program yang dilakukan oleh lembaga BKB dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan bagi orang tua dalam membangun karakter anak sejak dini. Tujuan spesifik dari penelitian ini adalah:

1        Mengetahui Profil Program BKB Miana I Kelurahan Gegerkalong.

2        Mengetahui proses bimbingan dan penyuluhan yang dilakukan oleh BKB Miana I Kelurahan Gegerkalong.

3        Mengetahui apa saja faktor pengahambat dan faktor pendukungnya.

4        Mengetahui hasil yang dicapai dari pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan untuk orang tua dalam membentuk karakter anak usia dini yang diberikan oleh BKB Miana I Kelurahan Gegerkalong ?

  1. D.    Sasaran dan Jadwal Kunjungan
    1. 1.      Sasaran Penelitian

No

Kecamatan

Kelurahan

Puskesmas

BKB

1.

Sekertaris Camat Sukasari

Pengurus Kelurahan Gegerkalong

Ketua Puskesmas Sukasari

Ketua BKB Miana I Kelurahan Gegerkalong

2.

Pengurus PLKB Kecamatan Sukasari

Dokter

Kader BKB

3.

Peserta BKB

Tabel 1.1 Sasaran penelitian

 

 

 

  1. 2.      Jadwal Kunjungan
No

Hari/ Tanggal

Kegiatan

1.

Kamis, 14 April 2011

Penyerahan surat ke pihak Kecamatan dan observasi awal

2.

Kamis, 21 April 2011

Observasi lanjutan (wawancara)

3.

Kamis, 28 April 2011

Observasi lanjutan (Penyebaran Angket)

4.

Jum’at, 6 Mei 2011

Observasi lanjutan (Pengambilan Angket)

5.

Sabtu, 14 Mei 2011

Observasi lanjutan (Melihat Proses Layanan BKB), Penutupan

Tabel 1.2 Jadwal Kunjungan

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. E.       Langkah-Langkah Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. 1.      Lokasi Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis mengambil lokasi di BKB Miana I Rt 04 Rw 03, Kelurahan Gegerkalong, Kecamatan Sukasari, Bandung. Alasan Melakukan Penelitian ini adalah:

  1. Adanya masalah yang cukup menarik untuk diteliti
  2. Adanya dan tersedianya data yang mudah terkumpul
  3. Adanya objek kajian yang dapat diteliti
  4. Dan berbagai faktor penunjang lainnya yang menjadikan peneliti memilih lokasi ini.

 

  1. 2.      Metode penelitian

Metode yang  digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kuantitatif,  dimana penulis bisa langsung menyaksikan situasi dan kondisi aktivitas bimbingan dan penyuluhan terhadap para orang tua, yang dilakukan di BKB tersebut, dan agar penulis dapat secara jelas mengetahui peranan pembimbing dalam bimbingan orang tua untuk membentuk karakter anak. Ketetapan metode ini juga didasarkan atas pendapat Winarno Surakhmad (1982: 139) yang mengatakan bahwa: aplikasi metode ini dimaksudkan untuk menyelidiki yang tertuju pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang.

Dengan pemanfaatan metode ini, konsekuensinya tentu saja harus mampu menganalisa dan mampu menerjemahkan data yang terhimpun sehingga sampai pada kesimpulan yang logis dan realistis. Lebih dari itu, penggunaan metode ini akan diarahkan pula pada pengkomparasian, menjelaskan dan menentukan kedudukan hubungan antara variable yang satu dengan variable yang lain.

 

  1. 3.      Jenis Dan Sumber Data

Jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif yanitu data yang dikumpulkan dalam penelitian merupakan jawaban atas pertanyaan penelitian yaitu data yang diajukan terhadap masalah yang dirumuskan dan pada tujuan yang telah ditetapkan (Bisri, 2003: 63). Sedangkan data kuantitatif yaitu data yang bisa diukur berupa angket yang peneliti sebar kepada orang tua ketika melaksanakan penelitian. Adapun jenis data penelitian ini adalah jenis data yang meliputi data-data tentang proses bimbingan dan penyuluhan kepada orang tua dalam membentuk karakter anak serta sikap dan pola asuh orang tua terhadap anak.

Dalam penelitian ini, data diambil dari sumber primer yaitu Sekertaris Camat Sukasari, Pengurus PLKB, Pengurus PUSKESMAS, Kader BKB, serta para peserta BKB. Data sekunder yaitu tulisan lainnya yang berhubungan dengan proses bimbingan dan penyuluhan dalam membentuk karakter anak.

 

  1. 4.      Teknik Pengumpulan Data

Dilihat dari tekniknya, pengumpulan data ini terbagi dua cara: pertama riset kepustakaan, yakni mencari teori yang relevan dengan permasalahn yang ada. Kedua, riset lapangan yaitu cara mendapatkan data-data empiric lapangan. Untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan khususnya data lapangan penulis menggunakan teknik sebagai berikut:

 

  1. Obeservasi

Dalam pelaksanaan obesrvasi, pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan menggunakan pengamatan langsung dilapangan untuk mendapatkan informasi atau data dari lokasi penelitian, baik itu subjektif, maupun objektif yang ada kaitannya dengan penelitian. Disini peneliti mengumpulkan data-data dengan melakukan wawancara langsung kepada kader BKB dan peneliti juga menyaksikan dengan langsung proses bimbingan dan penyuluhan yang dilakukan para kader di BKB Miana I Kelurahan Gegerkalong.

 

  1. Wawancara

Sebagai halnya observasi, data hasil wawancara ini berfungsi sebagai pelengkap yang kemudian akan dianlisis dengan menggunakan analisis rasional. Wawancara yang akan saya pakai adalah wawancara mendalam (in–depth interview) yaitu proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, pewawancara dan informan tetap terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.

 

  1. Dokumentasi

Sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-surat, catatan harian, cenderamata, laporan, foto, dan sebagainya. Sifat utama data ini tak terbatas pada ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam.

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang saya pakai dalam penelitian ini adalah teknis analisis data study kasus. Proses analisis data ini didasarkan pada penjelasan Bisri (2003: 66-67) analisis data yang dilakukan meliputi:

1)      mengumpulkan data penelitian

2)      setelah data terkumpul, maka data diklasifikasikan menurut jenis data dan masing-masing kategori

3)      setelah diklasifikasikan menurut jenisnya, data terebut dihubungkan antara pendapat satu dengan pendapat lainnya.

4)      Melakukan pengukuran terhadap yang lebih dan penambahan terhadap yang kurang (reduksi).

5)      Langkah selanjutnya, data tersebut dianalisis secara kualitatif dan kuantitati kemudian ditafsirkan

6)      Terakhir, disimpulkan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

  1. A.           BIMBINGAN DAN PENYULUHAN
    1. 1.      Pengertian Bimbingan Dan Penyuluhan

Jika ditelaah dari berbagai sumber akan dijumpai pengertian-pengertian yang beda mengenai bimbingan, tergantung dari jenis sumbernya dan yang merumuskan pengertian tersebut. Perbedaan itu disebabkan kelainan pandangan dan titik tolak, tetapi perbedaan itu hanyalah perbedaan tekanan atau dari sudut pandang mana melihatnya (Dewa Ketut Sukardi, 2007:36).

Istilah bimbingan dan konseling, sebgaimana digunakan dalam literatur professional di Indonesia, merupakan terjemahan dari Guidance And Counseling dalam bahasa Inggris. Arti dari kedua istilah tersebut baru bisa ditangkap dengan tepat, bila ditinjau apa yang dimaksud dengan kedua kata asli dalam bahasa Inggris, khususnya yang digunakan di Amerika Serikat. Terlebih dahulu di bahas arti Guidance, kemudian arti Counseling (WS. Winkel, 1997: 65).

Dalam kamus bahasa Inggris Guidance dikaitkan dengan kata asli guide, yang diartikan sebagai berikut: menunjukkan jalan (showing the way); memimpin (leading); menuntun (conduction); memberi petunjuk (giving instruction); mengatur (regulation); mengarahkan (guverning); memberikan nasehat (giving advice). Kalau istilah bimbingan dalam kamus bahasan Indonesia diberikan arti yang selaras dengan arti-arti yang disebutkan diatas, akan muncul dua pengertian yang agak mendasar, yaitu:

  1. Memberikan informasi, yaitu menyajikan pengetahuan yang dapat digunakan untuk megambil suatu keputusan, atau memberitahukan sesuatu sambil memberikan nasihat.
  2. Mengarahkan, menutun kesuatu tujuan. Tujuan itu mungkin hanya diketahui oleh pihak yang mengarahkan, mungkin perlu oleh diketahui oleh kedua pihak.

 

Menurut Isep Zainal Arifin (2009: 8) :Bimbingan dalam bingkai ilmu dakwah adalah irsyad islam, yang merupakan sebuah proses pemberian bantuan terhadap diri sendiri, individu, atau kelompok kecil agar dapat keluar dari berbagai kesulitan untuk mewujudkan kehidupan pribadi, individu, dan kelompok yang salam, khasanah thayibah, dan memperoleh ridho Allah SWT dan dunia akhirat.

Penyuluhan dalam bahasa sehari-hari sering digunakan untuk menyebut pada kegiatan pemberian penerangan kepada masyarakat, baik oleh lembaga pemerintah maupun oleh lembaga non pemerintah. Istilah ini diambil dari kata suluh yang searti dengan obor dan berfungsi sebagai penerangan. Secara khusus, istilah penyuluhan sebenarnya terkait dengan istilah bimbingan, yaitu bimbingan dan penyuluhan disingkat BP, terjemahan dari istilah dalam bahasa inggris  guidance and cunselling satu istilah dari cabang displin ilmu psikologi. Kata counseling (selanjutnya ditulis konseling) inilah yang diterjemahkan dengan arti penyuluhan. Arti penyuluhan secara khusus adalah suatu proses pemberian bantuan baik kepada individu atau kelompok dengan menggunakan metode-metode psikologis agar yang bersangkutan dapat keluar dari masalahnya dengan kekuatan sendiri, baik bersifat preventif, kuratif, korektif, maupun development ( Arifin, 2009: 49-50).

 

  1. 2.      Tujuan Bimbingan Dan Penyuluhan

Menurut aunur (2001: 35-36) secara garis besar atau secra umum, tujuan bimbingan dan penyuluhan dapat dirumuskan sebagai “membantu individu mewujudkan dirinya sebagai manusia seutuhnya agar mencapai kebagiaan dunia dan akhirat”. Secara khusus tujuan dari bimbingan dan penyuluhan adalah:

  1. Membantu individu agar tidak mengahadapi masalah
  2. Membantu individu mengatasi masalah yang sedang dihadapinya
  3. Membantu individu memelihara dan mengembangkan situasi dan kondisi yang baik atau telah baik agar tetap baik atau menjadi lebih baik, sehingga tidak menjadi sumber masalah bagi dirinya dan orang lain.

 

  1. 3.      Fungsi Bimbingan Dan Penyuluhan

Dengan melihat tujuan umum dan khusus dari bimbingan dan penyuluhan diatas, dapatlah di rumuskan fungsi dari bimbingan dan penyuluhan adalah (aunur, 2001: 37): Preventif (pencegahan), Kuratif (memecahkan), dan Preservative (menjaga) dan Development (pengembangan).

Hal ini juga senada dengan apa yang ungkapkan oleh  Dewa Ketut Sukardi (2007: 42-43) ditinjau dari segi sifatnya, bimbingan dapat berfungsi sebagai:

  1. Pencegahan (preventif), Layanan bimbingan dapat berfungsi sebagai penecegahan artinya merupakan usaha pencegahan terhadap timbulnya masalah. Dalam fungsi ini layanan yang diberikan berupa bantuan terhadap individu agar terhindar dari berbagai masalah yang dapat menghambat perkembangannya.
  2. Pemahaman, Fungsi pemahamanan yang dimaksud yaitu fungsi bimbingan yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan keperluan. Pemahaman ini mencakup: (1) pemahaman tentang diri; (2) pemahaman tentang lingkungan.
  3. Perbaikan, Walaupun fungsi pencegahan dan pemahaman telah dilakukan, namun mungkin saja individu masih menghadapi masalah tertentu. Di sinilah fungsi berperan, yaitu fungsi bimbingan yang mengahasilkan terpecahnya dan teratasinya berbagai masalah yang dialami individu.
  4. Pemeliharaan dan pengembangan, Fungsi ini berarti bahwa layanan bimbingan yang diberikan dapat membantu individu dalam memelihara dan mengembangkan keseluruhan pribadinya secara mantap, terarah, dan berkelanjutan. Dalam fungsi ini hal-hal yang dipandang positif dijaga agar tetap baik dan matap.

 

  1. 4.      Metode Bimbingan Dan Penyuluhan

Metode lazim diartikan sebagai cara untuk mendekati masalah sehingga diperoleh hasil yang memuaskan. Dalam bimbingan dan penyuluhan, metode yang digunakan diklasifikasi menjadi dua metode menurut kalsifikasinya, yaitu: (1) komunikasi langsung, dan (2) komunikasi tidak langsung (aunur, 2001: 53-55).

  1. a.      Komuniskasi Langsung

Metode langsung  adalah metode yang dimana pembimbinga melakukan komunikasi langsung (bertatap muka) dengan orang lain yang dibimbinganya. Metode ini dapat dirinci lagi menjadi:

 

1)      Metode individual

a)      Percakapan pribadi

b)      Kunjungan ke rumah

c)      Kunjungan dan observasi kerja

2)      Metode kelompok

a)      Diskusi kelompok: pembimbing melaksanakan bimbingan dengan cara mengadakan diskusi dengan kelompok klien yang mempunyai masalah yang sama.

b)      Karyawisata: bimbingan kelompok yang dilakukan secara langsung dengan mempergunakan ajang karyawisata sebagai forumnya.

c)      Sosiodrama: bimbingan dan konseling yang dilakukan secara langsung dengan cara bermain peran untuk memecahkan masalah.

d)     Psikodrama: bimbingan dan konseling yang dilakukan secara langsung dengan cara bermain peran untuk memecahkan masalah.

e)      Group teaching: bimbingan dan konseling dengan cara memberikan materi bimbingan dan konseling tertentu kepada kelompok yang sudah disiapkan.

 

  1. b.      Komunikasi Tidak Langsung

Metode tidak langsung adalah metode bimbingan yang dilakukan dengan media komunikasi massa. Hal ini juga dapat dilakukan secara individual maupun kelompok, bahkan masal.

1)      Metode Individual

a)      Melalui surat menyurat

b)      Melalui telapon dan sebagainya,

2)      Metode kelompok atau masal

a)      Melalui papan bimbingan

b)      Melalui surat kabar atau majalah

c)      Melalui brosur

d)     Melalui radio

e)      Melalui telavisi

 

  1. 5.      Unsur Bimbingan Dan Penyuluhan

Jika kita lihat dari metode yang digunakan dalam bimbingan dan penyuluhan, dapat kita lihat bahwa bimbingan dan penyuluhan menggunakan teori komunikasi dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu unsure-unsur yang digunakannya pun menggunakan unsure-unsur komunikasi. Komunikasi dapat diartikan sebagai suatu proses pemindahan informasi antara dua orang atau lebih, dengan menggunakan symbol-simbol bersama. Secara umum proses komunikasi sekurang-kurangnya mengandung lima unsure yaitu: pemberi, pesan, media, penerima, dan umpan balik (Moh. Surya, 2003: 122).

Hal ini juga diuraikan oleh Isep Zainal Arifin (2009: 54) bahwa dalam teknik penyuluhan terdapat lima unsure, yaitu:

  1. a.      Penyuluh

1)      Orang yang menjadi ujung tombak penyampaiaan informasi (narasumber atau penceramah);

2)      Menguasai ha-hal substantive dan teknis penyuluhan (a) materi dan metode penyuluhan, (b) keterampilan penyampaiaan pesandalam berbagai situasi dan kondisi.

3)      Menguasai retorika

4)      Menyampaikan hal yang terkait dengan penyuluhan (konsep, media yang diperlukan)

5)      Dapat menganalisis medan, situasi dan khalayak

6)      Menjaga kondisi dan penampilan

7)      Memperhitungkan jarak tempuh

8)      Konfirmasi-informasi

 

  1. b.      Khalayak

1)      Tanyakan kondisi obyektif khalayak dari sisi: social, ekonomi, pendidikan, agama, dan lain-lain yang terpenting tanyakan hal mana yang boleh dibicarakan dan  mana yang tidak.

2)      Hati-hati dengan masukan dari penyelenggara

3)      Korelasikan judul yang diminta panitia dengan kondisi obyektif masyarakat.

4)      Di lapangan ukur konsep yang telah disiapkan dengan waktu dan kenyataan khalayak.

 

  1. c.       Metode

Untuk penyuluhan dalam arti memberi penerangan metodenya relative sederhana, yaitu cukup dengan metode ceramah mungkin dengan dialog Tanya jawab. Untuk menguasai metode ceramah harus dikuasai disiplin ilmu retorika.

 

  1. d.      Materi

Materi harus disiapkan dalam bentuk sesuai permintaan dan kapasitas kemampuan anda:

1)      Konsep untuk pegangan sendiri dari yang lengkap hingga yang singkat (naskah emergensi).

2)      Paper atau makalah jika diminta

3)      Bahan untuk OHP sebagai kerangka dari konsep

4)      Untuk bahan OHP yang jelas, mudah dibaca, mudah diuraikan.

5)      Jika menggunakan computer atau peralatan elektronik lain siapkan perangkat secara lengkap dengan catatan konsep poin 1 tetap dibawa.

 

  1. e.       Media

1)      Tradisonal: mimbar, meja, lesehan, alam terbuka, dan lain-lain

2)      Non-tradisisonal: media massa, media elektronik.

 

  1. B.            Perkembangan Anak
    1. 1.      Pengertian Perkembangan

Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses alami setiap makhluk hidup. Sejak dalam kandungan, seorang individu sudah mengalami proses pertumbuhan meskipun mungkin tidak dapat diamati secara langsung (BKB, 2006: 3). Istilah perkembangan berarti serangkai perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Seperti yang dikatakan oleh van den daele (dalam elizabeth hurlock 1980: 2) perkembangan adalah perubahan kualitatif yang berarti bahwa perkembangan bukan sekedar penambahan beberapa centimeter pada tinggi badan seseorang atau peningkatan kemampuan seseorang, melainkan suatu integritas dari banyak struktur dan fungsi.

Perubahan yang terjadi pada seseorang tidak hanya perubahan yang terlihat saja seperti perubahan fisik (pertumbuhan) diantaranya bertambahnya berat badan dan tinggi badan, tetapi juga perubahan (perkembangan) dari segi lainya seperti berfikir, perasaan, bertingkah laku dan lain-lain. Perkembangan yang dialami anka tidaklah terjadi secara sembangan, tetapi merupakan rangkaian perubahan yang teratur dari satu tahap perkembangan ketahap perkembangan berikutnya (BKB, 2006: 3).

 

  1. 2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan

Ada 2 faktor uatama yang mempengaruhi perkembangan seseorang, yakni faktor dalam dan faktor luar:

  1. a.      Faktor dalam atau faktor yang ada dalam dirinya sendiri (faktor bawaan)

Yang termasuk dalam faktor bawaan adalah:

1)      Hal-hal yang diiturunkan dari orang tua, nenek, kakek,  atau generasi sebelumnya, misalnya: warna rambut, dan bentuk tubuh

2)      Unsur berfikir dan kemampuan kecerdasan. Ada anak yang bawaannya cepat dalam berfikir, ada anak yang lambat dalam berfikir

3)      Keadaan kelanjar dan zat-zat dalam tubuh. Kekurangan atau kelebihan akan mempengaruhi perkembangan anak, misalnya kekurangan hormon tertentu mengakibatkan anak menjadi “loyo”, daya tangkapnya kurang dan lain-lain.

4)      Perasaan (emosi) dan sifat-sifat (tempramen) tertentu. Ada anak yang dilahirkan dengan ciri-ciri emosi tertentu seperti pemalu, pemarah, tertutup, dan lain-lain.

 

  1. b.      Faktor luar

Yang termasuk dalam faktor luar yang mempengaruhi perkembangan adalah:

1)      Keluarga

Unsur keluarga yang mempengaruhi perkembangan anak terutama sikap dan kebiasaan mengasuh dan mendidik anak, hubungan orang tua dengan anak, hubungan ibu dengan ayah, hubungan saudara dan lain-lain. Dalam lingkungan keluarga, pola asuh atau perlakuan orang tua/the other parents pada seorang anak dalam membimbing perkembangan anak sangat besar pengaruhnya. Berikut akan dijelaskan tentang model-model pola asuh, diantaranya:

  • Otoriter

Semua dikendalikan oleh orang tua baik ayah ataupun ibu, bentuk pola asuhnya cenderung memakai kekerasan dan sifatnya berlarut-larut.

  • Permisif/Lazier Fairez (serba boleh)

Orang tua selalu menuruti keinginan anak, tidak ada aturan, tidak ada sanksi dan sifatnya bebas.

  • Demokratis

Pada pola asuh ini, orang tua lebih ramah pendidikan, mengerti akan kebutuhan anak, senantiasa member kesempatan/kebebasan berpendapat akan tetapi orang tua tetap sebagai pengendali dan anak tetap ada dalam bimbingan orang tua.

 

Agar dapat melakukan pengasuhan yang benar, orang tua harus memiliki pengetahuan dan keterampilan parenting (parenting skill) yaitu dengan cara membangun keluarga bahagia, mengenal tumbuh kembang anak, mengajarkan prinsip akhlak/nilai, mengetahui kebutuhan dasar anak, memahami keunikan anak, menjadi teladan dan yang paling penting yaitu mendidik anak dengan baik.

Kondisi parenting saat ini/parenting konvensional

  • Orang tua menjadi pusat kebenaran, anak berada pada posisi yang salah
  • Orang tua memaksakan kehendak pada anak
  • Orang tua tidak saling berbicara (mengobrol) dengan anak
  • Orang tua tidak mendengarkan pendapat anak
  • Orang tua sering melarang-larang anak
  • Orang tua menyerahkan pengasuhan anaknya kepada pengasuh, guru, nenek atau orang lain dengan alasan kesibukan
  • Orang tua boleh membentak anak
  • Orang tua boleh memukul anak dengan alasan mendidik anak
  • Orang tua yang mampu secara keuangan mempunyai pembantu yang bisa mengerjakan semua kebutuhan anak
  • Orang tua memanjakan anak dengan memenuhi semua keinginan anaknya
  • Orang tua tidak mau mengubah teknik pengasuhan dengan alasan bahwa semua prilaku buruk pada anak disebabkan oleh televise, lingkungan permainan, asuhan pembantu, teman-teman sekolah, kakek, nenek dan lain-lain.

 

Prinsip Dasar Parenting

  • Menjadi teladan
  • Mencintai dan menunjukkan cintanya kepada anak-anak
  • Melibatkan diri dalam kehidupan anak
  • Menyesuaikan cara pengasuhan dengan sifat/karakter anak
  • Membuat aturan dan menetapkan batasa
  • Membantu menumbuhkan kemandirian anak
  • Bersikap konsisten
  • Menghindari disiplin yang kasar
  • Menjelaskan peraturan dan keputusan
  • Memperlakukan anak dengan hormat

 

2)      Keadaan gizi

Kekurangan gizi dalam makanan menyebabkan anak tumbuh kurang baik, sakit-sakitan sehingga mempengaruhi perkembangan seluruh dirinya.

 

3)      Budaya setempat

Aturan dan kebiasaan masyarakat dapat mempengaruhi perkembangan anak secara positif ataupun negatif. Umpanya lingkungan yang mengutamakan kebersihan, kesehatan, pendidikan, agama mempeunyai pengaruh lain drai lingkungan yang tidak memperhatikan hal-hal tersebut.

 

4)      Teman bermain atau sekolah

Ada tidaknya teman bermai, tempat dan alat bermain atau kesempatan, mengikuti pendidikan disekolah, akam mempengaruhi perkembangan anak.

Masa lima tahun pertama kehidupan adalah masa terbentuknya kepribadian manusia. Oleh karena itu faktor dalam dan faktor luar harus di perhatikan agar dapat menjadi dasar-dasar pembentukan kepribadian yang kokoh dan mantap.

 

  1. 3.      Aspek-aspek perkembangan anak

Sebagai seorang manusia seutuhnya, maka aspek kebutuhan, kecerdasan (mental), perasaan (emosi) dan sosial secara utuh dan menyeluruh harus diperhatikan perkembangannya. Disamping itu anakpun harus dipenuhi kebutuhannya yang meliput: makanan, pakaian, kesehatan, kasih sayang, pengertian, rasa aman, dan kebutuhan akan rangsangan mental-sosial-emosional.

Mengingat bahwa masa bayi dan masa anak-anak lebih banyak dilewatkan di dalam keluarga, maka pemuasan kebutuhan-kebutuhan anak balita tersebut palinh banyak di rumah. Sedangkan orang yang paling tepat untuk memenuhi kebutuhan anak adalah ibu. Pada umumnya ibu mempunyai lebih banyak kesempatan untuk melatih dan mengajarkan berbagai kemampuan dan aspek-aspek perkembangan yang diperlukan anak dalam menghadapi masa depannya.

Dalam garis besarnya ada 7 aspek perkembangan yang harus diamati dan dibina, yaitu:

  1. Gerakan kasar

Yang dimaksud dengan gerakan kasar adalah gerakan yang dilakukan dengan melibatkan sebagian besar otot tubuh dan biasanya memerlukan tenaga. Contoh gerakan kasar: merangkak, berlari, melompat.

 

  1. Gerakan halus

Yang dimaksud dengan gerakan halus adalah gerakan yang dilakukan oleh bagian-bagian tubuh tertentu saja dan hanya melibatkan sebagian kecil otot tubuh saja. Gerakan ini tidak begitu memerlukan tenaga tetapi perlu koordinasi (kerjasama) mata dan anggota badan (tangan dan kaki).

 

  1. Mengerti isyarat/pembicaraan (komunikasi pasif)

Yang dimaksud dengan komunikasi papsif adalah kemampuan untuk mengerti isyarat dan pembicaraan oarang lain. Contoh komunikasi pasif: dapat melakukan perintah orang lain.

  1. Mengungkapkan dengan isyarat/kata-kata (komunikasi aktif)

Yang dimaksud dengan komunikasi aktif adalah kemampuan untuk mengungkap perasaan keinginan, dan pikiran baik melaui tangisan, gerakan tubuh maupun dengan kata-kata. Contoh komunikasi aktif adalah: menangis, mengungkapkan satu kata dan seterusnya.

 

  1. Kecerdasan

Yang dimaksud dengan kecerdasan adalah kemampuan daya tangkap, daya pikir, daya ingat dan memecahkan masalah. Contoh kecerdasan: membedakan anggota keluarga dengan orang lain., mampu menyamakan atau memasangkan benda yang serupa, mengenal warna, dan mengerti konsep waktu.

 

  1. Menolong diri sendiri

Yang dimaksud dengan menolong diri sendiri adalah kemampuan dan ketrampilan anka untuk melakukan sendiri hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari agar secara bertahap tidak terlalu tergantung pada orang lain.

 

  1. Bergaul

Yang dimaksud dengan tingkah laku sosial/bergaul adalah kemampuan keterampilan untuk bergaul dengan anggota keluarga mauoun dengan orang lain. Contoh perilaku bergaul: tersenyum, bermain dengan anak yang lain.

 

  1. C.           Pembentukan Karakter
    1. 1.      Pengertian karakter

Kepribadian adalah keseluruhan cara di mana seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa diukur yang ditunjukkan oleh seseorang. Sigmund Freud berpendapat bahwa kepribadian terdiri dari tiga sistem utama: id, ego, dan superego.  Setiap tindakan kita merupakan hasil interaksi dan keseimbangan antara ketiga sistem tersebut. Carl Jung pada awalnya adalah salah satu sahabat terdekat Freud dan anggota lingkaran koleganya, tetapi pertemanan mereka berakhir dalam pertengkaran tentang ketidaksadaran. Menurut Jung, di samping ketidaksadaran individual, manusia memiliki ketidaksadaran kolektif yang mencakup ingatan universal, simbol-simbol, gambaran tertentu, dan tema-tema yang disebutya sebagai arketipe. (sumadi suryabrata, 2008: 3).

Karakter merupakan segenap aspek dari keseluruhan manusia, paduan dalam (psikis) dari segi luarnya (jasmani), hingga merupakan satu kesatuan psikofisis. Aspek-aspek jasmani menentukan juga karakter; jan juga sebagai imbangannya karakter mengekspresikan diri dalam bentuk pelahiran yang sifatnya jasmani. Oleh adanya pengaruh yang timbal balik ini selalu terjadi dimensi ketegangan dan dinamika pada diri manusia.

Dengan demikian karakter itu sifatnya juga tidak statis, tapi selalu dinamis dan terus berubah. Jadi, sifat hakiki daripada  karakter ialah: dinamis dan berkembang terus menerussepanjang hidup manusia (kartini kartono, 2005: 62-63).

 

  1. 2.           Fungsi orang tua dalam membentuk karakter anak
    1. a.      Membangun karakter

Membangun karakter berarti mendidik. Anak yang akan dididik dapat diibaratkan sebagai tanah, isi pendidiklah sebagai bibit atau benih yang hendak ditaburkan, sedangkan pendidik diibaratkan sebagai petani. Untuk mendapatkan tanaman yang bagus, seorang petani harus jeli menentukan jenis dan kondisi lahan, kemudian menentukan jenis bibit yang tepat, serta cara yang tepat, setelah mempertimbangkan saat yang tepat pula untuk menaburkan bibit. Setelah selesai menabur, petani tidak boleh diam, tetapi harus memelihara, danmerawatnya jangan sampai kena hama pengganggu (Suharsimi Arikunto 2004 : 1).

Terdapat tiga teori perkembangan yang diyakini menentukan hasil jadi seorang anak. Pertama, teori tabula rasa, yakni teori yang menyatakan bahwa hasil jadi seorang anak sangat ditentukan seperti apa dia dididik. Teori ini mengibaratkan anak sebagai kertas putih yang kosong, tergantung siapa yang menulis dan melukisnya. Menulis dengan rapi atau dengan mencoret-coret bahkan diremas hingga kumal. Semua tergantung yang memegang kandali atas kertas putih tersebut.

Kedua, teori genotype, yang menyatakan bahwa hasil akhir seorang anak sangat ditentukan oleh gen (sifat, karakter, biologis) orang tuanya. Pepatah sering mendukung teori ini dengan perumpamanaan : air hujan mengalir tak jauh dari atapnya. Sifat kareakter, hingga yang lebih ekstrim lagi nasib anak-anak dianggap tidak akan jauh dari situasi orang tuanya. Penganut paham ini sangat kenatar jika sampai pada keputusan menentukan jodoh anak-anaknya. Orang tuanya cocok, maka hubungan anaknya boleh berlanjut, namun jika tidak cocok maka biasanya orang tua tidak akan memberi restu hubungan anaknya.

Ketiga, teori gabungan yang menggabungkan 2 karakter di atas di tambah dengan faktor mileu (lingkungan ). Teori ini banyak dipakai oleh para psikolog maupun pengembang pendidikan. Teori ini meyakini bahwa hasil akhir seorang anak ditentukan oleh tiga hal: faktor orang tua, faktor pendidkan dan faktor lingkungan. Banyak faktor lingkungan yakni dengan siapa dia bergaul, bergaul, pengaruh orang-orang dekat, paling diyakini sangat efektif mempengaruhi perkembangan anak.

Membangun karakter anak dengan demikian dibutuhkan upaya serius dari berbagai pihak terutama keluarga untuk mengkondisikan ketiga faktor di atas agar kondusif untuk tumbuh kembang anak. Pendidikan karakter pada anak harus siarahkan agar anak memiliki jiwa mandiri, bertanggung jawab dan mengenal sejak dini untuk dapat membedakan hal yang baik dan buruk, benar-salah, hak-batil, angkara murka-bijaksana, perilaku hewani dan manusiawi (Witono, 2005:1).

 

  1. b.      Peran orang tua dalam membentuk karakter anak

Anak adalah individu yang unik. Banyak yang menagatkan bahwa anak adalah miniatur dari orang dewasa. Padahal mereka betul-betul unik. Mereka belum banyak memiliki sejarah masa lalu. Pengalaman mereka sangat terbatas.
Di sinilah peran orang tua yang memiliki pengalaman hidup lebih banyak sangat dibutuhkan membimbing dan mendidik anaknya. Apabila dikaitkan dengan hak-hak anak, menurut Sri Sugiharti (2005 :1) tugas dan tanggung jawab orang tua antara lain.

1)      Sejak dilahirkan mengasuh dengan kasih sayang.

2)      Memelihara kesehatan anak.

3)      Memberi alat-alat permainan dan kesempatan bermain

4)      Menyekolahkan anak sesuia dengan keinginan anak

5)      Memberikan pendidikan dalam keluarga, sopan santun, sosial, mental dan juga pendidikan keagamaan serta melindungi tindak kekerasan dari luar.

6)      Memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan dan berpendapat sesuai dengan usia anak

 

Atas dasar itu orang tua yang bijaksana ankan mengajak anak sejak dini untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Saat itulah pendidikan karakter diberikan. Mengenal anak akan perbedaan di selilingnya dan diliatkan dalam tanggung jawab hidup sehari-hari, merupakan sarana anak untuk belajar menghargai perbedaan di sekelilingnya dan mengembangkan karakter di tengah berkembangnya masyarakat. Pada tahap ini orang tua dapat mengajarkan niali-nilai universal seperti cara menghargai orang lain, berbuat adil pada diri sendiri dan orang lain, bersedia memanfaatkan orang lain.

Ayah dan ibu sebagai orang tua anak, adalah contoh keteladanan dan perilaku bagi anak. Oleh karena itu orang tua harus berperilaku baik, saling asih, asah dan asuh. Ibu yang secara emosional dan kejiwaan lebih dekat dengan anaknya harus mampu menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya baik dalam bertutur kata, bersikap maupun bertindak. Peran ibu dalam pembentukan karakter ini demikian besar, sehingga ada pepatah yang mengatakan bahwa “Wanita adalah tiang negara. Manakala wanitanya baik maka baiklah negara. Manakala wanitanya rusak, maka rusaklah negara”.

Sementara itu sang bapak sebagai kepala keluarga juga harus mampu menajdi teladan yang baik. Karena ayah yang terlibat hubungan dengan anaknya sejak awal akan mempengaruhi perkembangan kognitif, motorik, kemampuan, menolong diri sendiri, bahkan meningkatkan kemampuan yang lebih baik dari anak lain. Kedekatan dengan ayah tentunya juga akan mempengaruhi pembentukan karakter anak.

Begitu besarnya peran orang tua dalam pembentukan karakter dan tumbuh kembang anak, sudah sewajarnya apabila orang tua perlu menerapkan pola asuh yang seimbang (authoritative) pada anak, bukan pola asuh yang otoriter atau serba membolehkan (permissive).

Pola asuh yang seimbang (authoritative) akan selalu menghargai individualitas akan tetapi juga menekankan perlunya aturan dan pengaturan. Mereka dangat percaya diri dalam melakukan pengasuhan tetapi meraka sepenuhnya mengahrgai keputusan yang diambil anak, minat dan pendapat serta perbedaan kepribadiannya. Orang tua dengan pola asuh model ini, penuh dengan cinta kasih, mudah memerinci tetapi menuntut tingkah laku yang baik. Tegas dalam menjaga aturan bersedia memberi hukuman ringan tetapi dalam situasi hangat dan hubungan saling mendukung. Mereka menjelaskan semua tindakan dan hukuman yang mereka lakukan dan minta pendapat anak. Anak dari orang tua yang demikian akan merasa tenang dan nyaman. Mereka akan menjadi paham kalau mereka disayangi tetapi sekaligus mengerti terhadap apa yang diharapkan dari orang tua. Jadi anak sejak pra sekolah akan menunjukkan sikap lebih mandiri, mampu mengontrol dirinya, biasa bersikap tegas dan suka eksplorasi. Kondisi yang demikian itu tidak akan didapatkan anak bila orang tuanya menerapkan pola asuh otoriter atau permisif. Karena anak-anak di bawah asuhan otoriter akan menjadi pendiam, Penakut dan tidak percaya pada diri mereka sendiri. Sementara anak-anak yang diasuh dengan model permisif akan menajdi anak yang tidak mengenal aturan dan norma serta idak memiliki rasa tanggung jawab.

Menurut hasil penelitian, pengaruh pola asuh atau pengasuhan terhadap pembentuka karakter anak sangat besar.

  • Menurut Rene Spitz (dalam Robert Berr, 1985), anak yang tidak diasuh oleh ibunya mempunyai keterbelakangan mental psikologis bila dibandingkan dengan anak yang di asuh oleh ibunya.

 

  • Menurut Bronfenbrener (dalam Roberta Berr, 1995), anak-anak yang pernah memasuki penitipan anak dalam kesehariannya akan bersosialisasi dengan kawan sebayanya saja, sehingga mempunyai sikap lebih agresif, egosentris dan impulsive dibandingkan anak-anak yang mendapatkan perawatan di rumah.

 

  • Menurut John Bolby (dalam Elizabeth B. Hurlock,1990), pengasuhan anak ditandai dengan adanya attachment yaitu interaksi yang terjadi antara ibu dan anak dalam rangka pemenuhan kebutuhan anak. Kebutuhan anak yang terpenuhi akan menjadikan rasa aman sehingga membentuk rasa percaya diri.

 

 

BAB III

HASIL PENELITIAN

 

  1. A.    Latar Belakang BKB Miana I

BKB Miana I yang beralamatkan di Jl. Gegerkalong Tengah No.29, Rt 04 Rw 03, Kelurahan Gegerkalong,  Kecamatan Sukasari ini merupakan salah satu BKB (Bina Keluarga Balita) di Bandung. Saat ini yang menjabat sebagai ketua Kader BKB yaitu Ny. Oneng. Jumlah kader BKB Miana ada 6 orang termasuk ketua dan jumlah keluarga balita/peserta BKB kurang lebih 75 keluarga balita.

BKB ini dibentuk dalam rangka pembinaan keluarga untuk mewujudkan tumbuh kembang balita secara optimal. BKB ini tidak sama dengan PAUD (Pendidikan anak usia dini) ataupun TPA karena sasaran dari BKB ini adalah keluarga/orangtua yang memiliki anak balita 0-5 tahun. BKB dikenal sebagai kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, kesadaran dan sikap orangtua serta anggota keluarga lainnya dalam membina tumbuh kembang balita. Sedangkan PAUD adalah upaya pembinaan yang ditujukan pada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan jasmani dan perkembangan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Sasaran BKB adalah orangtua (ayah/ibu) dan anggota keluarga lainnya, sedangkan PAUD sasarannya adalah anak.

Sebanarnya BKB dan PAUD dapat dipadukan/disinergikan karena satu sama lain saling mengisi dan melengkapi, terutama bila hal ini dikaitkan dengan tujuan perndidikan untuk menjadikan “Anak Indonesia Sehat, Cerdas, Bercita-cita Tinggi dan Berakhlak mulia” yang berdimensi holistik. Sebab kenyataan menunjukkan, mereka yang sukses di masyarakat tidak selalu hanya pintar secara intelektual, tetapi juga yang juga baik kecerdasan sosial dan motoriknya.

Tujuan dari program layanan BKB ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, kesadaran, dan sikap orang tua serta anggota keluarga untuk mempersiapkan pendidikan anak usia nol (0) sampai dengan usia dibawah lima tahun, dalam rangka menumbuhkembangkan kecerdasan balita. Selain itu juga, untuk memberikan pengetahuan tentang pertumbuhan dan perkembangan anak karena proses tumbuh kembang anak  akan berpengaruh terhadap perkembangan kehidupan anak selanjutnya.

Adapun tujuan dari di bentuknya BKB ini antara lain:

  1. Bagi lembaga
  • Untuk mendapatkan informasi dan edukasi program keluarga berencana dalam perencanaan keluarga dengan pendekatan pada oktimalisasi perhatian pola asuh anak balita dikeluarga.
  • Untuk meningkatkan kelestarian kesertaan ber-KB bagi keluarga.
  1. Bagi orang tua
  • Agar dapat mengurus dan merawat anak serta pandai membagi waktu dan mengasuh anak
  • Untuk memperluas wawasan dan pengetahuan tentang pola asuh anak yang benar
  • Untuk meningkatkan keterampilan dalam hal mengasuh dan mendidik anak balita
  • Supaya lebih terarah dalam cara pembinaan anak
  • Agar mampu mencurahkan perhatian dan kasih saying terhadap anak sehingga tercipta ikatan batin yang kuat antara otang tua dan anak.
  • Agar mampu membentuk anak yang berkualitas.
  1. Bagi anak, diharapkan:
  • Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  • Berkepribadian luhur
  • Tumbuh dan berkembang secara optimal
  • Cerdas, trampil, dan sehat
  • Memiliki dasar kepribadian yang kuat guna perkembangan selanjutnya.

 

Sasaran dari Program BKB ini adalah sebagai berikut:

  • Ibu dan atau anggota keluarga lainnya yang mempunyai anak balita.
  • Pembina Kelompok BKB.
  • Pengurus / Pengelola Kelompok BKB

 

  1. B.     Profil Kader dan Peserta BKB
    1. 1.      Profil Kader BKB Miana I Gegerkalong

NO

NAMA

UMUR

PENDIDIKAN

PEKERJAAN

STATUS

LAMA MENJADI KADER

1.

Ny. Oneng

46 th

SMP

IRT

Bersuami

23 tahun

2.

Eti Rohaeti

47 th

SMP

IRT

Bersuami

10 tahun

3.

Dra. Hj. Nani Rahmini

57 th

S1

PNS

Bersuami

5 tahun

4.

Ani Sumarni

46 th

SD

IRT

Bersuami

8 tahun

5.

Tin Rachmawati

40 th

SMEA

IRT

Bersuami

16 th

6.

Siti Fatimah

26 th

SMP

IRT

Bersuami

3 tahun

 

Tabel 3.1 Profil Kader BKB Miana I

 

 

  1. 2.      Profil Peserta BKB Miana I Gegerkalong

 

NO

NAMA

UMUR

PENDIDIKAN

PEKERJAAN

STATUS

1.

PARYATI

36 th

SMP

IRT/BUKA

WARUNG

BERSUAMI

2.

ISNA

28 th

SMA

KARYAWAN SWASTA

BERSUAMI

3.

MARNI

30 th

SMP

IRT

BERSUAMI

4.

DEVI

23 th

SMA

IRT

BERSUAMI

5.

YUNINGSIH

25 th

SMA

IRT

BERSUAMI

6.

TINI

32 th

SMP

KARYAWAN SWASTA

SINGLE PARENT

7.

ESIH SUKAESIH

35 th

SMP

IRT

BERSUAMI

8.

YAYU

28 th

SMA

IRT

SINGLE PARENT

9.

KANIA

22 th

SMP

IRT/BUKA WARUNG

BERSUAMI

10.

IIS SITI AISYAH

25 th

SMA

IRT

BERSUAMI

11.

YULI

26 th

SMP

IRT

BERSUAMI

12.

LILIS

21 th

SMA

IRT

BERSUAMI

13.

YUYUN

30 th

SMP

IRT

BERSUAMI

14.

PONI

32 th

SMA

IRT

BERSUAMI

15.

IJAH

34 th

SMP

IRT

BERSUAMI

 

Tabel 3.2 Profi Peserta Bkb Miana I

 

Keterangan : Data peserta BKB yang diambil adalah data orang tua yang mempunyai balita umur 3-5 tahun

 

  1. C.    Proses Layanan Bimbingan dan Penyuluhan untuk Orang Tua Peserta BKB
  2. 1.      Waktu Pelaksanaan

Proses layanan Bimbingan dan penyuluhan untuk orang tua peserta BKB biasanya dilakukan sebulan sekali, jadwalnya disesuaikan dengan jadwal POSYANDU yaitu hari sabtu, minggu kedua. Kegiatan BKB MIANA I dilakukan dengan dua cara yaitu formal dan informal. Kegiatan formalnya dilakukan sebulan sekali sesuai jadwal POSYANDU dan kegiatan yang informal yaitu biasanya kader datang langsung ke rumah peserta atau sebaliknya.

 

  1. 2.      Jumlah Kader dan Peserta yang hadir pada waktu kegiatan BKB

No

Tanggal

Jumlah Kader

Jumlah Peserta

Tempat Pelaksanaan

0-2

2-3

3-5

1

10 Juli 2010

6 orang

8 org

3 org

8 org

Rumah ketua kader

2

14 Agustus 2010

6 orang

9 org

13 org

16 org

Rumah ketua kader

3

25 September 2010

5 orang

9 org

7 org

3 org

Rumah ketua kader

4

09 Oktober 2010

5 orang

12 org

7 org

7 org

Rumah ketua kader

5

13 November 2010

6 orang

11 org

5 org

6 org

Rumah ketua kader

6

11 Desember 2010

5 orang

12 org

8 org

8 org

Rumah ketua kader

7

08 Januari 2011

5 orang

13 org

6 org

7 org

Rumah ketua kader

8

12 Februari 2011

5 orang

16 org

9 org

7 org

Rumah ketua kader

9

12 Maret 2011

5 orang

16 org

5 org

7 org

Rumah ketua kader

10

09 April 2011

5 orang

13 org

7 org

5 org

Rumah ketua kader

11

14 Mei 2011

6 orang

14 org

7 org

6 org

Rumah ketua kader

 

Tabel 3.3 Jumlah Kader dan Peserta yang hadir pada waktu kegiatan BKB

  1. 3.      Sarana dan Prasarana

No

Nama Barang

Jumlah

1

Kursi

8 unit

2

Meja

4 unit

3

Timbangan

1 unit

4

Timbangan Gantung

1 unit

5

Timbangan Bayi

1 unit

 

Tabel 3.4 Sarana dan Prasarana

 

  1. 4.      Materi yang di berikan dan Metode yang diPakai

Materi yang diberikan disesuaikan dengan buku panduan BKB, selain itu para kader juga berbagi ilmu yang telah mereka dapat dari hasil pelatihan-pelatihan. Metode penyuluhannya dengan ceramah dan kadang-kadang diskusi. Selain memberikan penyuluhan kepada para ibu atau orang tua anak, para kader juga membimbing anak-anak yang menjadi peserta BKB dengan mengajaknya bermain dan mengembangkan kreatifitas anak misalnya bernyanyi, menggambar, dan lain-lain. berikut uraiannya:

No

Tanggal

Materi yang diberikan

Metode

Pemateri

1

10 Juli 2010 Pengetahuan tentang KB

Ceramah/ TJ

Petugas PLKB

2

14 Agus 2010 Pengetahuan tentang Deteksi Tumbuh Kembang Anak

Ceramah/ TJ

Pembina BKB

3

25 Sept 2010 Gerak kasar dan gerak halus

Ceramah/ TJ

Pembina BKB

4

09 Okt 2010 Komunikasi pasif dan komunikasi aktif

Ceramah/ TJ

Pembina BKB

5

13 Nov 2010 Kecerdasan anak

Ceramah/ TJ

Pembina BKB

6

11 Des 2010 Menolong diri sendiri

Ceramah/ TJ

Pembina BKB

7

08 Jan 2011 Tingkah laku sosial dan Bergaul

Ceramah/ TJ

Pembina BKB

8

12 Feb 2011 Cara melatih perkembangan anak

Ceramah/ TJ

Pembina BKB

9

12 Maret 2011 Media interaksi orang tua dengan anak

Ceramah/ TJ

Pembina BKB

10

09 April 2011 Diskusi masalah pertumbuhan dan perkembangan anak

Ceramah/ TJ

Pembina BKB

11

14 Mei 2011 Pengetahuan tentang Ilmu Gizi

Ceramah/ TJ

Petugas Puskesmas

 

Tabel 3.5 Materi yang di berikan dan Metode yang diPakai

 

  1. D.    Faktor Penghambat dan Faktor Pendukung Bimbingan dan Penyuluhan untuk Orang Tua Peserta BKB
  2. 1.      Faktor Pendukung
    1. Ketua kadernya sangat antusias dalam menjalankan dan mengembangkan program BKB
    2. Semangat yang besar dari para kader

 

  1. 2.      Faktor Penghambat
    1. Sarana dan Prasarana yang sangat terbatas
    2. Kurangnya dukungan dari Lembaga yang terkait dengan BKB misalnya BKKBN, PLKB dan lain-lain
    3. Kurangnya perhatian dari Kecamatan
    4. Kader yang masih terbatas
    5. Kurangnya kerja sama antara kader dan peserta
    6. Tidak ada media bermain untu anak (Alat Permainan Edukatif (APE))

 

 

 

 

  1. E.     Hasil yang dicapai dari Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan untuk Orang Tua Peserta BKB

Untuk melihat hasil yang dicapai, berhasil atau tidaknya kegiatan/pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan untuk orang tua peserta BKB, kami memberikan angket kepada ibu-ibu peserta BKB sebagai alat ukur untuk mendapatkan gambaran dan jawabannya. Dalam angket tersebut terdapat 18 pertanyaan yang berhubungan dengan parenting dan pola asuh orang tua terhadap anak, berikut uraiannya:

NO

RESPONDEN

JAWABAN

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

1

Y

Y

Y

K

Y

K

T

T

K

Y

T

K

K

T

T

K

T

T

2

K

K

Y

K

T

T

K

K

K

T

K

K

T

T

T

K

T

Y

3

Y

Y

Y

K

K

T

K

K

K

T

T

K

K

T

T

K

K

K

4

Y

Y

T

K

K

T

T

K

Y

K

K

K

T

T

T

K

T

T

5

Y

Y

T

Y

T

K

T

T

K

Y

T

K

K

T

T

K

T

T

6

Y

K

T

K

K

T

K

K

K

K

K

K

K

K

T

K

K

K

7

K

K

Y

Y

T

K

T

T

K

Y

Y

K

T

T

T

Y

T

T

8

K

Y

Y

K

K

K

K

T

K

T

K

K

K

K

T

K

T

T

9

K

K

Y

K

T

K

K

K

K

T

K

T

T

T

T

K

T

K

10

K

K

Y

K

T

K

K

K

K

K

K

Y

Y

K

T

K

T

K

11

K

Y

Y

K

K

K

K

T

T

T

T

K

K

T

T

K

K

T

12

Y

Y

T

T

T

T

T

K

 K

T

T

K

K

T

T

K

T

T

13

K

Y

Y

K

K

T

K

T

K

T

K

K

K

K

T

K

T

T

14

K

K

T

K

K

T

K

K

K

K

K

K

K

K

T

 K

K

K

15

K

K

Y

T

Y

T

T

K

K

T

T

K

K

T

T

K

T

T

 

Tabel 3.6 Hasil secara umum

 

 

 

 

 

Analisis Soal

 

 

SOAL

Persentase (%)

 

Sudah Berhasil

 

Cukup Berhasil

 

Belum Berhasil

Ya

Kd

Td

  1. Meminta maaf kepada anak ketika melakukan kesalahan

40

60

ü   

 

 

  1. Menegur anak dengan menunjukkan kesalahannya

53

47

 

ü   

 

  1. Orang tua sebagai penentu apa yang akan dilakukan oleh anak

67

ü   

 

 

  1. Orang tua mengambil keputusan tanpa meminta persetujuan anak

 

ü   

 

  1. Orang tua memaksakan kehendak anak

13

47

40

 

ü   

 

  1. Orang tua tidak mengajak anak ngobrol

47

53

ü   

 

 

  1. Orang tua tidak menjelaskan keinginan dan harapan kepada anak

60

40

 

ü   

 

  1. Orang tua tidak mendengar pendapat anak

60

40

 

ü   

 

  1. Orang tua sering melarang-larang anak

7

86

7

 

ü   

 

  1. Orang tua menitipkan anak di tempat lain

20

27

53

ü   

 

 
  1. Orang tua menyerahkan pengasuhan kepada orang lain, tetapi anak tetap berada dirumah

7

53

40

 

ü   

 

  1. Orang tua suka memarahi anak

7

86

7

 

 

ü   

  1. Orang tua suka membentak anak

7

67

26

 

 

ü   

  1. Orang tua suka menghukum anak dengan hukuman fisik seperti memukul, menjewer dll.

33

67

ü   

 

 

  1. Orang tua mempunyai pembantu/pengasuh yang siap melayani segala keperluan anak

100

ü   

 

 

  1. Orang tua sering mengabulkan keinginan dan permintaan anak

7

93

 

ü   

 

  1. Prilaku buruk anak disebabkan oleh pengaruh buruk lingkungan

74

26

 

ü   

 

  1. Orang tua merasa sudah melakukan pengasuhan anak dengan benar sehingga tidak perlu melakukan perubahan.

7

33

60

ü   

 

 

 

Tabel 3.7Analisis Soal secara umum

Dari tabel analisis soal diatas dapat disimpulkan bahwa proses bimbingan dan penyuluhan terhadap orang tua peserta BKB Miana I sudah cukup berhasil, akan tetapi tingkat keberhasilannya belum begitu maksimal. Butuh kerja keras lagi dari para kader dan pembina untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas Program BKB yang ada di kelurahan Gegerkalong tersebut dalam menciptakan dan membentuk karakter anak sejak usia dini.

 

  1. 1.      Pendidikan
    1. a.      SMA

NO

RESPONDEN

JAWABAN

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

9

K

K

Y

K

T

K

K

K

K

T

K

T

T

T

T

K

T

K

10

K

K

Y

K

T

K

K

K

K

K

K

Y

Y

K

T

K

T

K

11

K

Y

Y

K

K

K

K

T

T

T

T

K

K

T

T

K

K

T

12

Y

Y

T

T

T

T

T

K

K

T

T

K

K

T

T

K

T

T

13

K

Y

Y

K

K

T

K

T

K

T

K

K

K

K

T

K

T

T

14

K

K

T

K

K

T

K

K

K

K

K

K

K

K

T

 K

K

K

15

K

K

Y

T

Y

T

T

K

K

T

T

K

K

T

T

K

T

T

 

Tabel 3.8 Hasil dilihat dari Pendidikan SMA

 

 

 

 

 

Analisis Soal

 

SOAL

Persentase (%)

 

Sudah Berhasil

 

Cukup Berhasil

 

Belum Berhasil

 

 

Ya

 

Kd

 

Td

  1. Meminta maaf kepada anak ketika melakukan kesalahan

14,5

85,5

 

 

ü   

  1. Menegur anak dengan menunjukkan kesalahannya

43

57

 

ü   

 

  1. Orang tua sebagai penentu apa yang akan dilakukan oleh anak

71

29

ü   

 

 

  1. Orang tua mengambil keputusan tanpa meminta persetujuan anak

71

29

 

ü   

 

  1. Orang tua memaksakan kehendak anak

14

43

43

 

ü   

 

  1. Orang tua tidak mengajak anak ngobrol

43

57

ü   

 

 

  1. Orang tua tidak menjelaskan keinginan dan harapan kepada anak

71

29

 

ü   

 

  1. Orang tua tidak mendengar pendapat anak

71

29

 

ü   

 

  1. Orang tua sering melarang-larang anak

86

14

 

ü   

 

10. Orang tua menitipkan anak di tempat lain

29

71

ü   

 

 

11. Orang tua menyerahkan pengasuhan kepada orang lain, tetapi anak tetap berada dirumah

57

43

 

ü   

 

12. Orang tua suka memarahi anak

14,5

71

14,5

 

 

ü   

13. Orang tua suka membentak anak

14,5

71

14,5

 

 

ü   

14. Orang tua suka menghukum anak dengan hukuman fisik seperti memukul, menjewer dll.

43

57

ü   

 

 

15. Orang tua mempunyai pembantu/pengasuh yang siap melayani segala keperluan anak

100

ü   

 

 

16. Orang tua sering mengabulkan keinginan dan permintaan anak

100

ü   

 

 

17. Prilaku buruk anak disebabkan oleh pengaruh buruk lingkungan

29

71

ü   

 

 

18. Orang tua merasa sudah melakukan pengasuhan anak dengan benar sehingga tidak perlu melakukan perubahan.

43

57

 

ü   

 

 

Tabel 3.9 Analisis soal

 

Dari tabel analisis soal diatas dapat disimpulkan bahwa proses bimbingan dan penyuluhan terhadap orang tua peserta BKB Miana I sudah cukup berhasil, akan tetapi tingkat keberhasilannya belum begitu maksimal. Butuh kerja keras lagi dari para kader dan pembina untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas Program BKB yang ada di kelurahan Gegerkalong tersebut dalam menciptakan dan membentuk karakter anak sejak usia dini.

 

  1. b.      SMP

NO

RESPONDEN

JAWABAN

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

1

Y

Y

Y

K

Y

K

T

T

K

Y

T

K

K

T

T

K

T

T

2

K

K

Y

K

T

T

K

K

K

T

K

K

T

T

T

K

T

Y

3

Y

Y

Y

K

K

T

K

K

K

T

T

K

K

T

T

K

K

K

4

Y

Y

T

K

K

T

T

K

Y

K

K

K

T

T

T

K

T

T

5

Y

Y

T

Y

T

K

T

T

K

Y

T

K

K

T

T

K

T

T

6

Y

K

T

K

K

T

K

K

K

K

K

K

K

K

T

K

K

K

7

K

K

Y

Y

T

K

T

T

K

Y

Y

K

T

T

T

Y

T

T

8

K

Y

Y

K

K

K

K

T

K

T

K

K

K

K

T

K

T

T

 

Tabel 3.10 Hasil dilihat dari Pendidikan SMP

 

 

 

 

 

 

Analisis Soal

 

SOAL

Persentase (%)

 

Sudah Berhasil

 

Cukup Berhasil

 

Belum Berhasil

 

 

 

Ya

 

 

Kd

 

 

Td

  1. Meminta maaf kepada anak ketika melakukan kesalahan

62

38

ü   

 

 

  1. Menegur anak dengan menunjukkan kesalahannya

62

38

ü   

 

 

  1. Orang tua sebagai penentu apa yang akan dilakukan oleh anak

62,5

37,5

ü   

 

 

  1. Orang tua mengambil keputusan tanpa meminta persetujuan anak

25

75

ü   

 

 

  1. Orang tua memaksakan kehendak anak

12,5

37,5

50

ü   

 

 

  1. Orang tua tidak mengajak anak ngobrol

50

50

 

ü   

 

  1. Orang tua tidak menjelaskan keinginan dan harapan kepada anak

50

50

 

ü   

 

  1. Orang tua tidak mendengar pendapat anak

50

50

 

ü   

 

  1. Orang tua sering melarang-larang anak

12,5

87,5

ü   

 

 

  1. Orang tua menitipkan anak di tempat lain

37,5

37,5

25

 

 

ü   

  1. Orang tua menyerahkan pengasuhan kepada orang lain, tetapi anak tetap berada dirumah

12,5

37,5

50

 

ü   

 

  1. Orang tua suka memarahi anak

100

ü   

 

 

  1. Orang tua suka membentak anak

37,5

62,5

ü   

 

 

  1. Orang tua suka menghukum anak dengan hukuman fisik seperti memukul, menjewer dll.

75

25

 

ü   

 

  1. Orang tua mempunyai pembantu/pengasuh yang siap melayani segala keperluan anak

100

 

ü   

 

  1. Orang tua sering mengabulkan keinginan dan permintaan anak

12,5

87,5

 

 

ü   

  1. Prilaku buruk anak disebabkan oleh pengaruh buruk lingkungan

75

25

 

ü   

 

  1. Orang tua merasa sudah melakukan pengasuhan anak dengan benar sehingga tidak perlu melakukan perubahan.

12,5

62,5

25

 

ü   

 

 

Tabel 3.11 Analisis soal

 

Dari tabel analisis soal diatas dapat disimpulkan bahwa proses bimbingan dan penyuluhan terhadap orang tua peserta BKB Miana I sudah cukup berhasil, akan tetapi tingkat keberhasilannya belum begitu maksimal. Butuh kerja keras lagi dari para kader dan pembina untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas Program BKB yang ada di kelurahan Gegerkalong tersebut dalam menciptakan dan membentuk karakter anak sejak usia dini.

 

  1. 2.      Pekerjaan
    1. a.      Bekerja diluar (Karir)

NO

RESPONDEN

JAWABAN

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

3

Y

Y

Y

K

K

T

K

K

K

T

T

K

K

T

T

K

K

K

9

K

K

Y

K

T

K

K

K

K

T

K

T

T

T

T

K

T

K

 

Tabel 3.12 Hasil dilihat dari Pekerjaan (karir)

 

Analisis Soal

 

SOAL

Persentase (%)

 

Sudah Berhasil

 

Cukup Berhasil

 

Belum Berhasil

 

 

Ya

 

Kd

 

Td

  1. Meminta maaf kepada anak ketika melakukan kesalahan

50

50

ü   

 

 

  1. Menegur anak dengan menunjukkan kesalahannya

50

50

ü   

 

 

  1. Orang tua sebagai penentu apa yang akan dilakukan oleh anak

100

ü   

 

 

  1. Orang tua mengambil keputusan tanpa meminta persetujuan anak

100

 

ü   

 

  1. Orang tua memaksakan kehendak anak

50

50

 

ü   

 

  1. Orang tua tidak mengajak anak ngobrol

50

50

ü   

 

 

  1. Orang tua tidak menjelaskan keinginan dan harapan kepada anak

100

 

ü   

 

  1. Orang tua tidak mendengar pendapat anak

100

 

ü   

 

  1. Orang tua sering melarang-larang anak

100

 

ü   

 

10. Orang tua menitipkan anak di tempat lain

100

 

ü   

 

11. Orang tua menyerahkan pengasuhan kepada orang lain, tetapi anak tetap berada dirumah

50

50

ü   

 

 

12. Orang tua suka memarahi anak

50

50

ü   

 

 

13. Orang tua suka membentak anak

50

50

ü   

 

 

14. Orang tua suka menghukum anak dengan hukuman fisik seperti memukul, menjewer dll.

100

ü   

 

 

15. Orang tua mempunyai pembantu/pengasuh yang siap melayani segala keperluan anak

100

ü   

 

 

16. Orang tua sering mengabulkan keinginan dan permintaan anak

100

 

ü   

 

17. Prilaku buruk anak disebabkan oleh pengaruh buruk lingkungan

50

50

ü   

 

 

18. Orang tua merasa sudah melakukan pengasuhan anak dengan benar sehingga tidak perlu melakukan perubahan.

100

 

ü   

 

 

Tabel 3.13 Analisis soal

 

Dari tabel analisis soal diatas dapat disimpulkan bahwa proses bimbingan dan penyuluhan terhadap orang tua peserta BKB Miana I sudah berhasil dilaksanakan dan materi-materi yang di berikan kepada orang tua peserta BKB sudah mereka aplikasikan dalam membimbing anak-anak mereka, terutama bagi ibu-ibu yang mempunyai balita usia 3-5 tahun. Walaupun mereka sibuk bekerja diluar, mereka tetap memperhatikan tumbuh kembang anak-anaknya.

 

  1. b.      Tidak Bekerja

NO

RESPONDEN

JAWABAN

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

2

K

K

Y

K

T

T

K

K

K

T

K

K

T

T

T

K

T

Y

4

Y

Y

T

K

K

T

T

K

Y

K

K

K

T

T

T

K

T

T

6

Y

K

T

K

K

T

K

K

K

K

K

K

K

K

T

K

K

K

7

K

K

Y

Y

T

K

T

T

K

Y

Y

K

T

T

T

Y

T

T

8

K

Y

Y

K

K

K

K

T

K

T

K

K

K

K

T

K

T

T

10

K

K

Y

K

T

K

K

K

K

K

K

Y

Y

K

T

K

T

K

11

K

Y

Y

K

K

K

K

T

T

T

T

K

K

T

T

K

K

T

12

Y

Y

T

T

T

T

T

K

K

T

T

K

K

T

T

K

T

T

13

K

Y

Y

K

K

T

K

T

K

T

K

K

K

K

T

K

T

T

14

K

K

T

K

K

T

K

K

K

K

K

K

K

K

T

K

K

K

15

K

K

Y

T

Y

T

T

K

K

T

T

K

K

T

T

K

T

T

 

Tabel 3.14 Hasil dilihat dari Pekerjaan (Tidak Bekerja)

 

 

SOAL

Persentase (%)

 

Sudah Berhasil

 

Cukup Berhasil

 

Belum Berhasil

 

 

Ya

 

Kd

 

Td

  1. Meminta maaf kepada anak ketika melakukan kesalahan

27

73

 

ü   

 

  1. Menegur anak dengan menunjukkan kesalahannya

45

55

ü   

 

 

  1. Orang tua sebagai penentu apa yang akan dilakukan oleh anak

64

36

ü   

 

 

  1. Orang tua mengambil keputusan tanpa meminta persetujuan anak

9

73

18

 

ü   

 

  1. Orang tua memaksakan kehendak anak

9

55

36

ü   

 

 

  1. Orang tua tidak mengajak anak ngobrol

36

64

ü   

 

 

  1. Orang tua tidak menjelaskan keinginan dan harapan kepada anak

64

36

ü   

 

 

  1. Orang tua tidak mendengar pendapat anak

64

36

ü   

 

 

  1. Orang tua sering melarang-larang anak

9

82

9

ü   

 

 

10. Orang tua menitipkan anak di tempat lain

9

36

55

ü   

 

 

11. Orang tua menyerahkan pengasuhan kepada orang lain, tetapi anak tetap berada dirumah

9

64

27

ü   

 

 

12. Orang tua suka memarahi anak

9

91

 

ü   

 

13. Orang tua suka membentak anak

9

64

27

 

ü   

 

14. Orang tua suka menghukum anak dengan hukuman fisik seperti memukul, menjewer dll.

45

55

ü   

 

 

15. Orang tua mempunyai pembantu/pengasuh yang siap melayani segala keperluan anak

100

ü   

 

 

16. Orang tua sering mengabulkan keinginan dan permintaan anak

9

91

 

ü   

 

17. Prilaku buruk anak disebabkan oleh pengaruh buruk lingkungan

27

73

ü   

 

 

18. Orang tua merasa sudah melakukan pengasuhan anak dengan benar sehingga tidak perlu melakukan perubahan.

9

27

64

 

ü   

 

 

Tabel 3.15 Analisis soal

 

 Analisis Soal

Dari tabel analisis soal diatas dapat disimpulkan bahwa proses bimbingan dan penyuluhan terhadap orang tua peserta BKB Miana I sudah berhasil dilaksanakan dan materi-materi yang di berikan kepada orang tua peserta BKB sudah mereka aplikasikan dalam membimbing anak-anak mereka, terutama bagi ibu-ibu yang mempunyai balita usia 3-5 tahun.

 

 

  1. 3.      Status
    1. a.      Bersuami

NO

RESPONDEN

JAWABAN

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

11

 K

Y

Y

K

K

K

K

T

T

T

T

K

K

T

T

K

K

T

10

K

K

Y

K

T

K

K

K

K

K

K

Y

Y

K

T

K

T

K

8

K

Y

Y

K

K

K

K

T

K

T

K

K

K

K

T

K

T

T

7

K

K

Y

Y

T

K

T

T

K

Y

Y

K

T

T

T

Y

T

T

6

Y

K

T

K

K

T

K

K

K

K

K

K

K

K

T

K

K

K

4

Y

Y

T

K

K

T

T

K

Y

K

K

K

T

T

T

K

T

T

2

K

K

Y

K

T

T

K

K

K

T

K

K

T

T

T

K

T

Y

1

Y

Y

Y

K

Y

K

T

T

K

Y

T

K

K

T

T

K

T

T

13

K

Y

Y

K

K

T

K

T

K

T

K

K

K

K

T

K

T

T

14

K

K

T

K

K

T

K

K

K

K

K

K

K

K

T

K

K

K

15

K

K

Y

T

Y

T

T

K

K

T

T

K

K

T

T

K

T

T

5

Y

Y

T

Y

K

T

T

K

Y

Y

T

K

K

T

T

K

T

T

9

K

K

Y

K

T

K

K

K

K

T

K

T

T

T

T

K

T

K

 

Tabel 3.16 Hasil dilihat dari Status (Bersuami)

 

Analisis Soal

 

 

SOAL

Persentase (%)

 

Sudah Berhasil

 

Cukup Berhasil

 

Belum Berhasil

 

 

Ya

 

Kd

 

Td

  1. Meminta maaf kepada anak ketika melakukan kesalahan

31

69

ü   

 

 

  1. Menegur anak dengan menunjukkan kesalahannya

46

54

ü   

 

 

  1. Orang tua sebagai penentu apa yang akan dilakukan oleh anak

69

31

ü   

 

 

  1. Orang tua mengambil keputusan tanpa meminta persetujuan anak

15

77

8

ü   

 

 

  1. Orang tua memaksakan kehendak anak

15

54

31

ü   

 

 

  1. Orang tua tidak mengajak anak ngobrol

46

54

ü   

 

 

  1. Orang tua tidak menjelaskan keinginan dan harapan kepada anak

62

38

ü   

 

 

  1. Orang tua tidak mendengar pendapat anak

62

38

 

ü   

 

  1. Orang tua sering melarang-larang anak

15

77

8

 

ü   

 

  1. Orang tua menitipkan anak di tempat lain

23

31

46

 

ü   

 

  1. Orang tua menyerahkan pengasuhan kepada orang lain, tetapi anak tetap berada dirumah

8

62

30

ü   

 

 

  1. Orang tua suka memarahi anak

8

84

8

 

ü   

 

  1. Orang tua suka membentak anak

8

62

30

 

ü   

 

  1. Orang tua suka menghukum anak dengan hukuman fisik seperti memukul, menjewer dll.

38

62

 

ü   

 

  1. Orang tua mempunyai pembantu/pengasuh yang siap melayani segala keperluan anak

100

ü   

 

 

  1. Orang tua sering mengabulkan keinginan dan permintaan anak

8

92

ü   

 

 

  1. Prilaku buruk anak disebabkan oleh pengaruh buruk lingkungan

23

77

ü   

 

 

  1. Orang tua merasa sudah melakukan pengasuhan anak dengan benar sehingga tidak perlu melakukan perubahan.

8

30

62

 

ü   

 

 

Tabel 3.17 Analisis Soal

 

Dari tabel analisis soal diatas dapat disimpulkan bahwa proses bimbingan dan penyuluhan terhadap orang tua peserta BKB Miana I sudah berhasil dilaksanakan dan materi-materi yang di berikan kepada orang tua peserta BKB sudah mereka aplikasikan dalam membimbing anak-anak mereka, terutama bagi ibu-ibu yang mempunyai balita usia 3-5 tahun.

 

  1. b.      Single Parent

NO

RESPONDEN

JAWABAN

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

3

Y

Y

T

T

T

T

T

K

K

T

T

K

K

T

T

K

T

T

12

Y

Y

Y

K

K

T

K

K

K

T

T

K

K

T

T

K

K

K

 

Tabel 3.18 Hasil dilihat dari Status (Single Parent)

 

Analisis Soal

 

 

SOAL

Persentase (%)

 

Sudah Berhasil

 

Cukup Berhasil

 

Belum Berhasil

 

 

Ya

 

Kd

 

Td

  1. Meminta maaf kepada anak ketika melakukan kesalahan

100

ü   

 

 

  1. Menegur anak dengan menunjukkan kesalahannya

100

ü   

 

 

  1. Orang tua sebagai penentu apa yang akan dilakukan oleh anak

50

50

 

ü   

 

  1. Orang tua mengambil keputusan tanpa meminta persetujuan anak

50

50

ü   

 

 

  1. Orang tua memaksakan kehendak anak

50

50

ü   

 

 

  1. Orang tua tidak mengajak anak ngobrol

100

ü   

 

 

  1. Orang tua tidak menjelaskan keinginan dan harapan kepada anak

50

50

ü   

 

 

  1. Orang tua tidak mendengar pendapat anak

100

 

ü   

 

  1. Orang tua sering melarang-larang anak

100

 

ü   

 

  1. Orang tua menitipkan anak di tempat lain

100

ü   

 

 

  1. Orang tua menyerahkan pengasuhan kepada orang lain, tetapi anak tetap berada dirumah

100

ü   

 

 

  1. Orang tua suka memarahi anak

100

 

ü   

 

  1. Orang tua suka membentak anak

100

 

ü   

 

  1. Orang tua suka menghukum anak dengan hukuman fisik seperti memukul, menjewer dll.

100

ü   

 

 

  1. Orang tua mempunyai pembantu/pengasuh yang siap melayani segala keperluan anak

100

ü   

 

 

  1. Orang tua sering mengabulkan keinginan dan permintaan anak

100

 

ü   

 

  1. Prilaku buruk anak disebabkan oleh pengaruh buruk lingkungan

50

50

ü   

 

 

  1. Orang tua merasa sudah melakukan pengasuhan anak dengan benar sehingga tidak perlu melakukan perubahan.

50

50

 

ü   

 

 

Tabel 3.19 Analisis Soal

 

Dari tabel analisis soal diatas dapat disimpulkan bahwa proses bimbingan dan penyuluhan terhadap orang tua peserta BKB Miana I sudah berhasil dilaksanakan dan materi-materi yang di berikan kepada orang tua peserta BKB sudah mereka aplikasikan dalam membimbing anak-anak mereka, terutama bagi ibu-ibu yang mempunyai balita usia 3-5 tahun. Walaupun mereka single parent, mereka mampu membesarkan, membimbing dan mendidik anak-anaknya dengan baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. A.    KESIMPULAN
  2. 1.      Profil BKB Miana I Kelurahan Gegerkalong

 BKB Miana I yang beralamatkan di Jl. Gegerkalong Tengah No.29, Rt 04 Rw 03, Kelurahan Gegerkalong,  Kecamatan Sukasari ini merupakan salah satu BKB (Bina Keluarga Balita) di Bandung. Saat ini yang menjabat sebagai ketua Kader BKB yaitu Ny. Oneng. Jumlah kader BKB Miana ada 6 orang termasuk ketua dan jumlah keluarga balita/peserta BKB kurang lebih 75 keluarga balita. BKB ini dibentuk dalam rangka pembinaan keluarga untuk mewujudkan tumbuh kembang balita secara optimal.

Sasaran dari Program BKB ini adalah sebagai berikut:

  • Ibu dan atau anggota keluarga lainnya yang mempunyai anak balita.
  • Pembina Kelompok BKB.
  • Pengurus / Pengelola Kelompok BKB

Adapun tujuan dari di bentuknya BKB ini antara lain:

  1. Bagi lembaga
  • Untuk mendapatkan informasi dan edukasi program keluarga berencana dalam perencanaan keluarga dengan pendekatan pada oktimalisasi perhatian pola asuh anak balita dikeluarga.
  • Untuk meningkatkan kelestarian kesertaan ber-KB bagi keluarga.
  1. Bagi orang tua
  • Agar dapat mengurus dan merawat anak serta pandai membagi waktu dan mengasuh anak
  • Untuk memperluas wawasan dan pengetahuan tentang pola asuh anak yang benar
  • Untuk meningkatkan keterampilan dalam hal mengasuh dan mendidik anak balita
  • Supaya lebih terarah dalam cara pembinaan anak
  • Agar mampu mencurahkan perhatian dan kasih saying terhadap anak sehingga tercipta ikatan batin yang kuat antara otang tua dan anak.
  • Agar mampu membentuk anak yang berkualitas.
  1. Bagi anak, diharapkan:
  • Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  • Berkepribadian luhur
  • Tumbuh dan berkembang secara optimal
  • Cerdas, trampil, dan sehat
  • Memiliki dasar kepribadian yang kuat guna perkembangan selanjutnya.

 

  1. 2.      Profil proses bimbingan dan penyuluhan

Proses layanan Bimbingan dan penyuluhan untuk orang tua peserta BKB biasanya dilakukan sebulan sekali, jadwalnya disesuaikan dengan jadwal POSYANDU yaitu hari sabtu, minggu kedua. Kegiatan BKB MIANA I dilakukan dengan dua cara yaitu formal dan informal. Kegiatan formalnya dilakukan sebulan sekali sesuai jadwal POSYANDU dan kegiatan yang informal yaitu biasanya kader datang langsung ke rumah peserta atau sebaliknya. Peserta BKB adalah orang tua/ibu yang mempunyai anak usia 0-5 tahun.

Materi yang diberikan disesuaikan dengan buku panduan BKB, selain itu para kader juga berbagi ilmu yang telah mereka dapat dari hasil pelatihan-pelatihan. Metode penyuluhannya dengan ceramah dan kadang-kadang diskusi. Selain memberikan penyuluhan kepada para ibu atau orang tua anak, para kader juga membimbing anak-anak yang menjadi peserta BKB dengan mengajaknya bermain dan mengembangkan kreatifitas anak misalnya bernyanyi, menggambar, dan lain-lain.

 

  1. 3.      Faktor pengahambat dan faktor pendukung
    1. a.      Faktor Pendukung

1)      Ketua kadernya sangat antusias dalam menjalankan dan mengembangkan program BKB

2)      Semangat yang besar dari para kader

 

  1. b.      Faktor Penghambat

1)      Sarana dan Prasarana yang sangat terbatas

2)      Kurangnya dukungan dari Lembaga yang terkait dengan BKB misalnya BKKBN, PLKB dan lain-lain

3)      Kurangnya perhatian dari Kecamatan

4)      Kader yang masih terbatas

5)      Kurangnya kerja sama antara kader dan peserta

6)      Tidak ada media bermain untu anak (Alat Permainan Edukatif (APE))

 

  1. 4.      Hasil yang dicapai dari pelaksanaan program BKB Miana I Kelurahan Gegerkalong

Untuk melihat hasil yang dicapai, berhasil atau tidaknya kegiatan/pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan untuk orang tua peserta BKB, dalam penelitian ini kami memberikan angket kepada ibu-ibu peserta BKB sebagai alat ukur untuk mendapatkan gambaran dan jawabannya. Dalam angket tersebut terdapat 18 pertanyaan yang berhubungan dengan parenting dan pola asuh orang tua terhadap anak.

Setelah diolah, hasilnya dapat disimpulkan bahwa proses bimbingan dan penyuluhan terhadap orang tua peserta BKB Miana I sudah berhasil dilaksanakan dan materi-materi yang di berikan kepada orang tua peserta BKB sudah mereka aplikasikan dalam membimbing anak-anak mereka, terutama bagi ibu-ibu yang mempunyai balita usia 3-5 tahun. Walaupun mereka sibuk bekerja diluar, mereka tetap memperhatikan tumbuh kembang anak-anaknya. Akan tetapi masih ada hal-hal yang perlu dikembangkan oleh para kader dan pembina BKB Miana I untuk meningkatkan kualiatas Program yang bermutu.

 

 

 

 

 

 

 

  1. B.     SARAN
  2. 1.      Saran untuk BKB Miana I Gegerkalong
    1. Perlu dilakukannya tindakan yang lebih lanjut yang progresif sehingga program-program yang hendak dicapai bisa tercapai dan mengalami progress yang lebih baik dengan cara peningkatan kualitas dari kader dan Pembina BKB  sehingga anak-anak balita  bisa lebih di perhatikan.
    2. Perlu adanya perhatian lebih serius dalam memperbaiki sarana dan prasarana  yang akan menunjang proses berlangsungnya kegiatan BKB.
    3. Perlu adanya program-program akademik yang berhubungan dengan Psikologi Perkembangan dan Psikologi Kepribadian dari orang-orang yang ahli dibidangnya, sehingga orang tua tidak salah dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya.

 

  1. 2.      Saran untuk Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI)

Bimbingan dan Penyuluhan bagi Orang tua yang mempunyai balita pada aplikasinya sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, ini menjadi peluang emas bagi jurusan BPI untuk mengembangkannya dengan kelebihan BPI sebagai jurusan yang concern di bidang bimbingan penyuluhan (Counselling for all). Oleh karena itu perlu dilakukan perhatian dan tindakan yang lebih serius dalam mengembangkan peluang emas ini, misalnya dengan mengadakan program KSP pada jurusan BPI  diharapkan dapat merealisasikan kesempatan tersebut. 

  1. 3.       Saran Untuk Mata Kuliah Mnajemen BPI

Ternyata masih banyak hal yang masih harus di pelajari mengenai Metodologi Penelitian BPI terutama dalam teknik penyusunan laporan dan pengolahan data masih banyak kesulitan dalam mengerjakannya. Perlu dilakukannya metode pemberian materi yang lebih variatif tidak hanya secara teoritis saja tetapi secara praktis juga diperlukan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s